28.2.10

kamu kamu aku aku kita kita

haha. cheesy banget ya gue dalam beberapa post akhir-akhir ini? mucho sorry, bukannya gimana-gimana, masalahnya emang itu yang lagi gue rasain beberapa saat ini. mungkin karena faktor lagi dalam periode menstruasi juga, sehingga semua yang mellow dari diri gue keluar.
bener, gue sendiri sebenernya orang yang rasional dalam hal-hal yang menyangkut perasaan. tapi ya itu, kembali lagi ke faktor hormonal yang membuat gue jadi kayak cewek-cewek lain yang membuat seakan-akan hal-hal berkaitan dengan percintaan adalah hal PENTING. dan sekarang, dalam post ini di hari ini gue mengalami hari yang bergejolak karena seorang BMM. gue ngelakuin kesalahan yang gue tau emang bego banget, dan ternyata dia masih bisa nerima gue karena itu. suatu hal yang jarang gue temuin di orang-orang lain, lelaki-lelaki lain. dari sini, gue berharap gue bisa seenggaknya menghabiskan waktu sama dia nggak cuma sebulan dua bulan, tapi lebih.






hanya dalam waktu 2 minggu perkenalan, kita udah bisa sejauh ini sampai sekarang. emang nasib kali ya? seandainya aja waktu itu gue nggak dateng ke festival band dimana lo ikut, pasti kita nggak akan bisa ketemu, nggak akan bisa kenal dan nggak akan bisa kayak sekarang. gue udah terlanjur mengiyakan jadi 'punya' lo, demikian juga lo, dan gue terlalu egois untuk ngelepasin lagi.

muka genderuwo :P

27.2.10

KHIANAT, KIAMAT!!!!!

sebuah gambar untuk seorang teman baik, Ega Puja Bangsa

sketsa wajah yang gue buat dalam waktu 5 menit. nggak nyangka juga hasilnya rada mirip sama orangnya, karena bener-bener spontan juga bikinnya, atas dasar desakan dia yang terus minta dibikinin gambar mukanya.

26.2.10

maafin gue kalo sampai saat ini gue tetep ngerasainnya

gimanapun, rasa ragu itu masih ada.
meskipun sudah gue keluarin, gue ungkapin, tapi tetep aja pikiran-pikiran semacam itu bagai bayangan yang mengikuti setiap langkah yang gue tempuh. datangnya nggak terang-terangan, namun menelusup,
ketika gue sedang sendiri, melihat kebahagiaan mereka orang-orang lain dan berkaca sama diri gue sendiri.
haha. gue bodoh.
gue sendiri yang bilang kalo gue belom sayang sama lo, tapi kenapa gue yang nggak rela kalo seandainya lo menyimpang? sementara lo bilang lo percaya sama gue. mungkin, gue emang orang dengan ego tinggi yang hanya bisa merasakan sayang yang lo bilang itu, hanya dengan cara lo cemburu.
apa mungkin gue terlalu naif memandang apa itu rasa sayang? mungkin juga. karena gue butuh suatu pembuktian dari lo. ya, gue emang egois. gue menuntut pembuktian dari lo, sementara gue sendiri nggak ngerasain apa yang lo (bilang) rasain terhadap gue. bilang, gue takut kehilangan pemuja. gue emang manusia biasa kok, yang suka ditinggiin, tanpa mandang ke orang yang ninggiin gue itu. terserah. 

update muka gue, sebodo amat kalo dibilang narsis atau apa, ini blog gue kok





25.2.10

teruntuk Bayu Mulya Muharam


sebuah karya iseng untuk pacar saya. Tadinya sih dia nyuruh ngeditin fotonya doang, tapi gue lagi buntu ide, nggak tau gimana mau ngeditnya, yaudah gue gambar aja. Eh ternyata pas gue tunjukin ke orangnya, reaksinya . . . mm biasa aja. oke.

23.2.10

tidak bimbang, hanya bingung

gue belom sayang sama lo.
serius.
bahkan nggak ada getaran-getaran khusus waktu gue deketan sama lo.
datar. flat.
tapi gue nyaman.
dan gue mengiyakan.

hanya aja, ya itu tadi.
gue nggak ngerasa sesuatu yang 'BUZZ!!' saat gue deketan sama lo.
mungkin belom.
mungkin akan.
semuanya mungkin.
tapi tetep aja belom.
jadi gimana?

20.2.10

tenggelam aku di lautan ketidakpastian.
menunggu untuk melihat sinar yang mencerahkan
di tempat kini ku di kedalaman
haha, aku berangan.
tapi apa salah menyimpan harapan?

16.2.10

PENIPU!

Kau bilang aku penipu.
Hah!!!
Kau pikir siapa dirimu?
Apa kau tak tahu kau sama dustanya dengan aku?
Dasar dungu.

Kau bilang aku penipu.
Mengucapkan kata-kata palsu
Hah!!!
Asal kau tahu.
Aku ucapkan itu karena itu yang kau mau
Karna kau tak mau malu
Kalau kukatakan padamu sesungguhnya kamu
Kau tak mampu
Menyadari kalau hanya seekor keledai dungu
Jadi kuhibur saja dirimu
Dengan mulut maduku


Dan kini kau bilang aku penipu.
Harusnya kau berterimakasih, tau!

15.2.10

benar-benar saya tidak tahu apa yang saya rasa

baru tadi sore kita smsan, tapi sekarang gue udah nungguin sms dari lo lagi. haha nggak tau deh ini apa.

bagai berada di sebuah labirin yang memutar jalan, menghalang pandang untuk melangkah keluar

perasaan itu datang lagi.
tanpa terduga, bagai lampu truk di depan mata yang siap untuk menabrak.
merusak lautan hati saya yang tidak bergelombang
mencengkram erat, menggarang.
tiada tiang untuk berpegang.
saya pun bimbang.
padahal sudah bertekad untuk tidak kembali
merasa getaran yang sudah usang, mati.

hm,
mungkin saya sudah lelah.
menahan hasrat yang tak bisa saya tahan untuk membuncah.
ah.
memang saya lemah.

valentine's day gift for Rossy Apriani

well, i can't upload this to facebook since facebook is blocked in my campus, oh dang shit maaan. haha don't worry, i'm not a facebook freak but it's so useful to give a picture directly to somebody. so i decide to put it first here.

hmm i don't know if rossy will love this, but i hope so. okay, and by the way, happy valentine's day :)

12.2.10

a (rare) doodling time with siblings

hari ini, tadi siang lebih tepatnya, gue memutuskan untuk beli spidol dan pensil warna, karena gue sedang agak-agak males gambar pake cat air. bukannya nggak pernah sih gambar pakai dua media itu, cuma aja jarang-jarang dan lagipula spidol warna sama pensil warna gue entah kemana rimbanya, karena kebiasaan dipinjam dua adek gue yang kurang bertanggung jawab dalam hal peminjaman barang -__________-". Nah tadi setelah beli, gue iseng pengen ngetes itu gambar pakai spidol sama pensil warna. Terus pas lagi asik, dateng lah adek-adek gue merusuh di kamar gue. dan entah ada angin apa, mungkin karena ngeliat gue asik gambar, mereka ikut. oops, nggak deng, cuma adek gue yang cowok aja. sementara adek gue yang cewek, si vina kebagian jadi fotografer dadakan. dan ini dia foto-foto family-time tadi :






 
 selain motoin gue, si vina ternyata juga asik bernarsis ria -_-



 gue juga bikin grafitti gitu, tapi males nyelesain warnanya hehe :P


final result, nggak begitu bagus sih, soalnya cuma iseng-iseng nyoba aja. nanti gue benerin lagi :)

itu tadi sekelumit gambar (haha bahsa apaan deh) tadi. gimanapun ngeberantakinnya adek-adek gue di kamar gue tadi, tetep aja gue seneng karena bisa ngabisin waktu yang (sedikit) berguna sama mereka, tanpa ada sedikitpun cekcok. jarang soalnya bisa akur gitu, biasanya pasti 'berisik'. tapi yang jelas, gimanapun juga resenya adek gue, gue tau itu cuma sesaat, dan gue tetep sayang sama adek-adek gue :)

11.2.10

women are always women, whatever they take


a little bit crap by photoshop. but i promise the real drawing is much better than what you see ROFLMAO 

10.2.10

see through the blurry glass wont make you see clearly.

mencoba memandang semua dari sudut yang berbeda dan lebih terang. karena saya tahu, tak mungkin apa yang sudah digariskan tak terlihat.

9.2.10

terserah apa ini berjudul atau tidak

Tenang terjerat sepi kini tengah malamku. Menghujam di tengah gelap tanpa terang lampu, siap merasuk setiap mimpi-mimpi terindah dan terburuk.
Bergerilya ke semua sisi-sisi yang tak kau bayangkan ada dalam sanubarimu, terhempas, terkubur oleh bayangan-bayangan kemunafikan hidupmu. Sisi kelam yang tak kau hiraukan hadirnya, yang tanpa kau tahu, semakin membesar dan membentuk sebuah bom waktu yang menunggu masanya untuk meledakkan dirimu. Semua itu tanpa sadar kau bentuk pada saat kau dan aku sedang merasakan tengah malam yang sama, waktu yang sama, namun dengan pikiran yang berbeda. Kau dengan pikiran-pikiranmu menjelajah ke alam-alam revolusionermu yang kau pikir hebat, tutupi semua kemungkinan orang tahu, kalau kau, sama saja dengan mereka, sama binatangnya.

 Aku sendiri?

Di tengah malamku aku membiarkan fantasiku berkeliaran bebas, tanpa perlu kukemudikan kemana arahnya melangkah. Kala khayalanku menyusup ke bagian yang tabu, alamku melonjak penuh kebahagiaan. Aku, sama seperti kau, sama seperti mereka, sama binatangnya.
Yang berbeda, aku tak pernah menutupi bahwa aku binatang. Dan itu, membuatku semakin manusia. Tak seperti kau, tak seperti mereka, yang sehari-hari bertingkah menjadi manusia, dan semakin lama kau dan mereka semakin binatang.

Kenapa kau harus menipu dirimu sendiri di tengah malammu?

Tak akan ada yang tahu apa yang kau lakukan saat itu, bahkan mereka para pencuri dengar. Kenapa kau harus menyiksa dirimu atas hasrat yang menusuk setiap dinding batinmu, berharap ada setitik celah untuk lari keluar. Kau tahu, orang-orang sepertimu yang sampai saat terakhirnya terus menyembunyikan diri sendiri, berakhir menjadi makhluk tak berjiwa, karena pada akhirnya, gejolak hasrat-hasrat tergelap itu entah bagaimana bisa berhasil kabur dengan membawa jiwa-jiwa pemiliknya yang sesungguhnya tidak bisa mempergunakan apa itu jiwa. Sudahlah, kau tak perlu mempertahankan harga dirimu di depanku, di depan tengah malammu. Kau mungkin berharga, tapi kau rendahan. Sama sepertiku, dan sama seperti mereka. Aku tahu kau tidak seberani itu melepas topeng busuk berbau harum yang kau pakai di tengah hari, tapi kenapa kau masih harus memakainya di tengah malammu? Kau masih takut ada yang tahu kalau biadab?
Tenang saja, aku dan tengah malammu, kami semua sama rapatnya dengan hatimu yang begitu rapat menyimpan kebejatanmu. 

goodbye, deviant art.

i'm on the way to deactivate my deviantart account. well, i found it that it's more pleasant to exhibit my works here in this blog, my own baby. but i'm not sure if i can do that, but i'm on the page of the deactivation, and in one click i erase that account. am i sure? okay, hold on.

(and i think i'm gonna do that on facebook, too)

8.2.10

yang namanya berkarya itu, mengkaryakan apa saja yang ada, bukan dengan apa yang tidak ada.


biar pun gembel, tanpa benda-benda ini gue nggak akan bisa berkarya. udah terbukti, ketika gue ganti merek cat air jadi yang lebih mahalan, emang warnanya jatuhnya lebih bagus, tapi ternyata gue nggak dapet 'feel'nya dan gue jadi nggak bisa ngelukis lagi. begitupun dengan kuas, gue bukan orang yang bisa make banyak-banyak kuas. jadilah, 2 kuas ini, ukuran 1 dan 2 dengan merek berbeda aja yang gue pakai.

kala gelisah, kita tidak bisa melihat dengan jelas apa yang sesungguhnya sangat jelas

saya gelisah.
gelisah.
ge-li-sah.
geli-sah.
gelis-ah.
geli sia h.

6.2.10

--------------------------

satu pelajaran yang gue dapet. gue harus menjaga apapun yang tangan gue hasilkan, sejelek apapun, selama itu gue yang bikin. 

The only way to have a friend is to be one (Ralph Waldo Emerson)

Oke sepanjang hari ini, gue online, dan ngebuka-buka berbagai macam situ dari blog ini (yeah secara tadi juga gue udah ngepost), behance.net, last.fm, dan berbagai macam blog-blog orang sampai ke quotes-quotes. dan pas sampai di brainyquote.com, gue iseng pengen liat quotes tentang friendship, berhubung gue lagi ngerasa stuck sama pertemanan gue di sini, akhir-akhir ini. dan di sinilah gue menemukan sebuah quote dari Plutarch, isinya :

'I don't need a friend who changes when I change and who nods when I nod; my shadow does that much better. (Plutarch)'

gue suka banget-banget sama sama quote itu, dan gue jadi terkenang sama sejarah pertemanan gue sama temen-temen deket gue. sepanjang idup gue, gue sangat sangat jarang temenan sama orang yang mirip sama gue, dalam artian gue itu selalu temenan sama orang yang punya perbedaan sifat, penampilan, status dan lain lain. kenapa? gue nggak pernah tau pasti sebelumnya, tapi setelah ngeliat kata-katanya Plutarch, gue sedikit banyak menemukan alesannya. bayangan gue aja udah bisa melakukan semua apa yang gue lakukan, apa gue harus mencari temen yang sama kayak gue? pasti rasanya sangat membosankan. nggak bakalan ada sesuatu yang baru kalo orang yang deket sama gue berpikiran sama kayak gue, punya sudut pandang yang sama, mengiyakan semua apa yang gue lakukan, dan sebagainya. 

dalam pertemanan, menurut gue harus ada 2 isi kepala yang berbeda, sehingga masing-masing pihak bisa belajar untuk memikirkan mateng-mateng mana yang bener, mana yang harus diambil. meskipun ada pertentangan pendapat, tapi itu yang bikin semua pihak bisa belajar. dan itu, cuma bisa dilakukan antara orang-orang yang berteman dalam artian bener-bener temenan, secara fisik maupun batin. yang namanya temen sejati, pastinya akan selalu mendukung temennya,  meskipuun bukan dengan cara selalu mengiyakan apa aja yang dilakukan temennya, atau ngikut aja temennya itu, tapi temen itu (sekali lagi menurut gue) mendukung temennya dengan cara memikirkan apa yang terbaik buat temennya. 

emang, kadang seseorang bisa dengan naifnya berpikir kalo temennya itu kelewatan ikut campur dan nggak mikirin perasaannya. dan emang, kadang temen sejati itu bisa melewati batas, tapi itu semua, tujuannya supaya temennya nggak jatuh ke jurang. dan kalau seorang temen itu bisa kelewat berprasangka, itu semua bertujuan untuk melindungi temennya, bukan karena ego sendiri. karena, kalau seseorang udah menemukan teman sejati, dia pasti udah bisa melonggarkan tingkat kekekatan ego-nya.


5.2.10

okay i was angry but i'm not. i just memorize all of the puzzle's pieces.

well, i was kinda seeing my photos when i saw her face . . .

back then, she used to be my friend, 
but now


who knows?

saya sendiri tapi tidak sendirian

Gue selalu suka sama yang namanya 'Me-Time'.

Se-la-lu.

terutama pada saat gue lagi ngerasa jenuh sama apa yang gue jalanin sehari-hari.
contoh, ya kayak sekarang ini, di kala gue lagi ngetik post ini gue lagi agak-agak merasa jenuh sama apa yang gue lakukan. tapi harus tetap gue jalani, karena gue tau itu yang terbaik yang bisa gue lakukan saat ini untuk hasil yang terbaik di masa depan.

dulu, pas SMA, 'Me-Time' gue itu muter-muter naik kendaraan umum, dari awal sampai tujuan akhirnya itu kendaraan. macem-macem, bisa Bus TransJakarta, angkot, ataupun Metromini. Dan sendirian.
Gue pernah naik metro mini dari deket rumah gue, awalnya nggak ada tujuan dan gue naik metro mini 49 yang arah ke manggarai, sampai di terminal sana, gue balik lagi ke terminal pulo gadung. Dari situ, karena ngerasa belum puas, gue naik bus patas AC jurusan 84 yang ke Depok. Sebelumnya gue sama sekali nggak pernah ke Depok naik bus dan sendirian, tapi berhubung gue waktu itu lagi kepengen, yaudah gue pergi. Nggak pake mikir macem-macem, takut nyasar, takut buang-buang waktu, atau apalah segala macem. Sesampai di Depok, gue nggak ngapa-ngapain. Berdiri bentar di terminal Depok, ngelemasin kaki yang udah tegang karena duduk seharian di Bus, terus nyari Bus lagi yang arah balik ke rumah gue. Karena nggak ada yang langsung ke Pulo Gadung yang notabene paling deket ke rumah gue, akhirnya gue naik bus ijo yang ke Blok M, baru dari sana gue balik ke rumah.
itu baru salah satu contoh aja 'perjalanan' yang pernah gue lakukan. Gue juga sering, ke Pasar Minggu, ke Ragunan, pokoknya tempat-tempat yang jarang gue samperin. Atau kalau lagi pengen ngeluarin sedikit uang, gue ke Senen, belanja. Sama, sendirian juga. Tapi kalau soal ke Senen ini, alasan gue sendirian selain untuk nge-refresh pikiran gue, itu juga karena gue suka males ke Senen sama orang lain. Soalnya suka nggak sinkron, yang temen gue capek lah, udah males lah, dsb dsb. Karena gue itu kalo udah ke tempat sebangsa Senen gitu bisa gue ubek-ubek dari ujung ke ujung. itu yang bikin temen belanja gue suka kecapean sendiri, sehingga pada akhirnya gue lebih milih belanja sendirian aja daripada dibebani dengan keluh kesah dan malah balik-balik jadi BT.
Kalau sekarang, karena gue udah pindah ke Tanjung Pinang, gue nggak bisa kayak dulu lagi. Karena di sini nggak ada metromini, bus, dan sebagainya. angkot pun, harus nanya tujuannya dulu, karena angkot di sini nggak ada jurusannya. Jadilah gue nggak bisa muter-muter tanpa tujuan lagi. Jadi di sini, waktu gue buat sendirian bergeser jadi di tengah malem, pas semua orang di rumah gue udah pada tidur. Gue ngabisin waktu sendirian gue di tengah malem itu, memikirkan semua hal yang pengen gue ekstrak ulang, dan juga memikirkan hal-hal yang menurut gue menyenangkan

Setiap orang pasti beda definisi dan perwujudan waktu itu masing-masingnya. Tapi pada intinya sama aja. Setiap orang butuh waktu untuk sendirian, dan melakukan hal-hal yang dia senangi. Selain itu, pada waktu sendirian tanpa ada orang lain itu, menurut gue berguna juga untuk lebih mengenal diri sendiri. Karena pada saat gue sendirian, gue bisa bebas memikirkan masalah-masalah atau hal-hal yang bersangkutan sama gue, apa yang udah gue capai dan belum, dan juga apa yang bisa gue lakukan untuk ngerubah diri gue jadi lebih baik. itu yang bisa gue pikirin kalo lagi sendirian, karena kalau ada orang lain di sekitar gue, gue otomatis jadi lebih berpikir hal-hal yang berkaitan dengan mereka, dan nggak sempet melihat ulang ke diri gue sendiri. dan selain itu juga ya, biasanya kalo gue udah menghabiskan waktu sendiri, inspirasi biasanya dateng lancar banget. karena setelah gue sadari dulu masa-masa produktif gue itu biasanya dateng kalo gue udah keliling-keliling kayak gitu. 

NB : Cuman aja, waktu buat sendirian itu juga jangan dilakukan keseringan, karena pertama, itu bakalan jadi nggak spesial lagi; dan kedua,  lo bakalan jadi keliatan an-sos. Beneran :P

another works


buat sahabat gue dari jaman jelek ampe jaman sekarang, Kusfuadianti Septiani. berhubung gue nggak pernah ngasi apa-apa buat dia, jadi ya hanya gambar yang nggak seberapa ini deh yang bisa gue hadiahkan ke dia. hope you love this, girl :D

kalau yang ini, gue iseng aja sih bikinnya berhubung nggak tau harus gambar apaan. tadinya mau gue tambah detail lagi tapi berhubung males yasudah lah sekian dan terima kasih, hehehe.

halo, saya Alo! :)





inilah gue. dengan tampang seadanya, baru bangun tidur dan entah kenapa pengen bernarsis-narsis ria foto-foto pake webcam. ternyata hasilnya . . . ya gitu deh hehehe. nggak ada tujuan penting sih kenapa gue harus ngepost ini, cuma sepertinya gue nggak pernah ngepost muka gue yang bener-bener muka gue, jadi blog ini kayak kurang personal gitu, jadilah demikian. hehehe. 

4.2.10

because , you know, i don't wear a pink ribbon

i want to grow up. but i don't want to grow older.

Nggak kerasa, 24 hari lagi, gue udah genap 18 tahun menjadi manusia yang utuh. 18 tahun. Waktu yang cukup lama untuk membentuk pribadi seorang manusia. Waktu yang menurut gue merupakan masa transisi seseorang dari masa dimana ia banyak melakukan kebodohan, menjadi masa dimana dia lebih bijaksana dalam berpikir dan bersikap. Waktu yang mulai merubah pola pikir seseorang, dari semula dimana lebih banyak memikirkan hal-hal kekinian menjadi hal-hal yang lebih mengarah ke masa depan.

18 tahun.

Benar-benar angka yang nggak main-main menurut gue. Meskipun hanya beda 1 dari yang sebelumnya, 17. Tapi gue bener-bener ngerasa kalau di umur gue yang sudah 18 tahun ini, gue udah nggak bisa berpikir kayak anak 17 tahun lagi. Meskipun hanya beda 1 tahun lebih muda.
Di umur 18 ini, yang pertama jelas, gue udah nggak sekolah lagi. Lulus, tamat. Sekarang gue kuliah, dimana sekarang ini, gue udah bisa bebas menentukan jalan gue ke depannya. Apa gue mau kuliah aja, kuliah sambil kerja, atau bahkan kuliah sambil berumah tangga.

Dan, justru di sini, kebebasan itu yang bikin gue harus berpikir matang-matang atas apa yang akan gue ambil.

Gue bebas, dan justru kebebasan itu (ternyata) memberikan gue tanggung jawab yang lebih besar. Nggak kayak dulu, di jaman-jaman gue masih sekolah, ruang gerak gue terbatas. Seenggaknya kemungkinan yang gue ambil nggak bisa seluas sekarang. Kalau dulu jaman sekolah, misalnya gue mau nikah. Mau dikeluarin dari sekolah? Jadi kan nggak mungkin buat gue nikah pas sekolah. Atau kerja. Jarang banget ada kerjaan buat anak sekolahan, kalo iyapun, gue mungkin harus buka bisnis sendiri. Tapi tetep aja, beban akan sekolah itu tetep ada. Beban untuk belajar, untuk dapet nilai bagus, untuk naik kelas dan untuk lulus. Dan tanpa sadar, gue jadi lebih milih untuk fokus ke sekolah dulu, baru mikirin yang lain.
Sementara sekarang. Kuliah, meskipun pada prinsipnya sama-sama belajar, nggak terlalu ngejar-ngejar kayak waktu sekolah. Lo bisa milih yang mana mau diambil, bisa ngulang kalo nggak lulus, dan waktunya juga lebih fleksibel. Selain itu peraturan kuliah tentu juga lebih longgar dibanding pas sekolah, karena pada prinsipnya, kalo seseorang udah jadi mahasiswa, seenggaknya tanpa perlu diatur-atur oleh peraturan yang seabrek-abrek pun dia udah bisa berpikir matang dan bertanggung jawab. Dan, dari hal-hal yang kayaknya sepele itulah, kebebasan dan kemungkinan terbentang jauh lebih luas.

 “aelah masih muda ini, masih bisa lah main-main. Ntar aja mikir yang serius-serius kalo udah umur sekian sekian”.

Oke, mungkin ada yang mikir gitu. Gue ngerti, secara juga  ada beberapa temen-temen gue yang berpikiran kayak gitu. Tapi, buat gue pribadi, gue nggak bisa.
Udah cukup lah, sebelumnya gue 17 tahun hidup cuma mikirin yang enjoy-enjoy aja. Udah cukup, kalo diitung dari mulainya masa remaja gue, 5 tahun gue main-main tanpa serius mikirin kemana ke depannya gue bawa hidup ini. Emang sih, nggak ada yang tahu nasib sendiri gimana nanti, karena semua yang ngatur itu Tuhan, tapi tetep aja, kalo nggak ada bayangan dari sekarang, pasti kemana langkah gue itu nggak bakalan terarah. Dan tentu aja gue nggak mau kalo nanti kira-kira umur gue 28 atau 29, gue end up jadi pengangguran, nggak bisa apa-apa, dan kemungkinan-kemungkinan mengerikan lainnya. Gue pengen, seenggaknya nanti pas umur gue segitu, gue udah punya kerjaan tetep, gue bisa menghasilkan sesuatu, dan yang jelas, gue bisa menikmati hidup ini tanpa ada beban-beban yang bisa gue antisipasi dari sekarang.

Karena itu, mulai dari umur gue yang kedelapan belas ini, gue udah bertekad buat nggak main-main dalam menjalani hidup. Bukan, bukan berarti gue langsung yang sok tua atau gimana-gimana, tapi seenggaknya pola pikir gue buat bertindak itu udah harus gue perbaiki, dalam mempertimbangkan sesuatu juga harus dewasa, matang, dan nggak boleh asal tancap aja. Semoga aja, apapun yang gue lakukan, dari sekarang bisa dapet hasil yang bagus ke depannya. Amiiiin :D

3.2.10

saya memang hanya memikirkan diri saya sendiri dibanding hal lain.

Sesak nafas!
Paru-paru ini serasa berhenti untuk menyimpan udara di dalamnya.
Tidak tahu kenapa.
Padahal saya sangat memelihara paru-paru saya satu-satunya itu.
Saya tidak merokok, saya rajin berolahraga, dan saya selalu makan-makanan sehat.
Lalu kenapa
Paru-paru ini serasa berhenti untuk menyimpan udara di dalamnya?
Terlintas sebuah pikiran menyeramkan.

Apa ia bosan?
Apa ia bosan akan tugasnya yang itu-itu saja sepanjang hidupnya?
Apa ia bosan akan udara yang disimpannya?
Apa ia bosan akan keadaannya, menginginkan sekali saja dirinya kosong tanpa ada yang memberati?
Atau, apakah ia bosan akan saya sebagai pemiliknya?


Apa yang harus saya lakukan?
Apa yang harus saya lakukan untuk membujuk paru-paru itu?
Apa saya harus mengeluarkannya dan membiarkannya menghirup udara kebebasan?

Maaf, saya tidak bisa
Saya tahu mungkin paru-paru saya sudah bosan setengah mati atas semua
Dan kini sudah mulai memberontak agar bisa keluar dari semuanya
Tapi sekali lagi
Maaf, saya tidak bisa
Saya tidak bisa mengeluarkan paru-paru saya dari tempatnya
Karena ego saya terlalu besar, saya memikirkan diri saya sendiri yang akan mati kalau saya mengeluarkannya
Sekali lagi maaf
Karena ego saya terlalu besar
Saya harap paru-paru saya bisa mengerti

2.2.10

first timer

mantra - why

untuk pertama kalinya dalam hidup gue gue bikin sesuatu dari corel draw, dengan cuma modal pengetahuan tentang apa fungsinya pen tool yang gue tau dari buku panduan corel draw yang gue pinjem dari kampus. norak emang, hahaha. dan hasilnya mungkin nggak bagus-bagus amat, tapi karena ini karya pertama gue, tetep gue seneng. dan gue janji, gue bakalan bikin yang jauh lebih bagus dari ini. :))

followers

 
 
Copyright © jangan tanya saya, saya tidak tahu apa-apa!
Blogger Theme by BloggerThemes Design by Diovo.com